Saya datang ke seminar parenting Student One Islamic School bareng Ustad Aswan dengan kepala yang agak rewel. Judulnya kira-kira: Peran Ayah — Siapa Aku di Mata Anakku?
Di perjalanan saya sempat mikir, “Ah, pasti isinya ayah harus begini, ayah harus begitu.” Yang biasanya bikin saya angguk-angguk di tempat, lalu lupa pas pulang.
Ternyata yang nempel justru pertanyaan yang lebih pelan: di mata anak, aku ini siapa?
Bukan “udah natapin sekolah belum?”
Bukan “udah transfer uang belanja belum?”
Tapi: pas anak ingat ayahnya, yang muncul apa?
Di tengah materi, ada beda dua kata yang kelihatannya mirip: ada dan hadir.
Ayah yang ada itu badan di rumah. Duduk di sofa. HP di tangan. Anak di sebelah. Secara foto keluarga, lengkap. Tapi kalau ditanya hati lagi di mana — seringnya jauh. Kerjaan. Notifikasi. Pikiran yang belum selesai.
Ayah yang hadir beda. Badannya di situ, perhatiannya juga. Anaknya ngerasa, “Oh, ayah lagi sama aku.”
Saya diam. Karena saya tahu versi “ada”-nya itu. Pernah. Mungkin masih sering. Anak cerita sesuatu, saya jawab “hm” sambil scroll. Badan di ruang tamu, kepala di layar.
Anak itu peka. Mereka enggak selalu bilang “Ayah enggak hadir.” Tapi mereka bisa bedain mana kehadiran yang beneran, mana yang cuma kebetulan satu atap.
Lalu muncul istilah yang agak menusuk: father hunger. Lapar emosional karena sosok ayah kurang terasa. Bukan cuma ayah yang pergi. Bisa juga ayah yang tiap hari kelihatan, tapi enggak pernah “nyampe”.
Dibilangnya, kalau ayah hilang dari kehidupan anak, dampaknya bisa ke mana-mana. Generasi jadi gampang goyah. Saya enggak suka kalimat yang menakut-nakuti. Tapi yang ini rasanya lebih kayak alarm pelan — biar kita sadar lebih awal, bukan pas sudah keburu jauh.
Ada juga kutipan Imam Ibnul Qayyim. Intinya kurang lebih: betapa banyak orang yang justru “mencelakai” anaknya karena lalai mendidik, atau malah membiarkan anak ikut hawa nafsunya. Dia kira lagi sayang. Padahal justru zalim. Dan kalau dilihat kerusakan pada anak-anak, banyak yang pangkalnya dari ayah.
Pas bagian itu saya enggak langsung merasa “wah hebat nih materi.” Saya malah mikir ke diri sendiri. Gampang banget merasa sudah cukup cuma karena anak makan, sekolah, dan punya barang yang dia mau. Padahal yang mereka butuh seringnya lebih diam: didengar, dilindungi, dicontohkan.
Terus ada pertanyaan yang menjebak: mau jadi ayah yang baik, atau suami yang baik?
Di kepala saya sempat kepikiran harus milih. Jawabannya malah nyambung — ayah yang baik itu lahir dari suami yang baik.
Anak belajar banyak dari cara kita ke ibu mereka. Cara bicara. Cara minta maaf. Cara bantu yang kelihatannya sepele. Cara menghargai.
Kalau di rumah istri cuma dikritik, jarang dibantu, jarang didengar — itu juga pelajaran. Sayangnya pelajarannya enggak bagus.
Dari situ baru terasa: mendidik anak itu enggak dimulai di meja belajar. Kadang dimulai di dapur, di cara kita bilang “bentar ya” ke istri, di mau enggaknya kita akui salah.
Ayah, kata mereka, punya banyak wajah: teladan, pemimpin, pendidik, pembina, sahabat. Kalau tinggal jadi yang bayar tagihan, empat sisanya tinggal nama. Saya ketawa kecil dalam hati. Karena “ATM berjalan” itu godaan yang nyaman — kelihatan bertanggung jawab, tapi enteng secara kehadiran.
Lalu disebut momen-momen di mana anak paling butuh kita. Bukan pas liburan. Justru pas mereka sedih. Pas sakit. Pas berprestasi — biar kita ajarin syukur, bukan sombong. Dan pas mereka lagi cari jati diri — di situ mereka butuh contoh, bukan ceramah panjang.
Saya ingat, seringnya orang dewasa (termasuk saya) paling semangat hadir di momen yang “enak.” Padahal yang paling nempel di hati anak justru pas mereka sedang down, dan ayahnya enggak pergi ke mana-mana.
Yang bikin lega, caranya enggak harus ribet. Peluk. Bisikkan apresiasi secara privat — khusus buat dia. Doain anak di depan mereka, biar mereka dengar ayah juga butuh Allah.
Dibilangnya itu “tabungan emosional.” Tiap pelukan, tiap dengar cerita, tiap main bareng, tiap bilang terima kasih — nambah saldo. Kedekatan jarang lahir dari satu liburan mewah. Lebih sering dari yang sepele, tapi rutin.
Di bagian akhir, saya bawa pulang tiga kalimat pendek.
Jangan cuma membiayai. Harus mendidik juga. Sekolah bantu, rumah itu pusatnya.
Harus punya visi buat anak. Bukan cuma sekolah bagus, nilai bagus, ijazah, kerja. Tapi lebih ke iman, adab, ilmu, amal, lalu peran.
Harus kaya doa. Dicontohkan Nabi Ibrahim — mendidik dengan tangan, lisan, perilaku, dan doa. Salah satu doanya (QS. Ibrahim: 40): semoga beliau dan anak cucunya istiqamah mendirikan shalat.
Slide terakhir cuma dua kata: komitmen ayah.
Tanpa itu, semua poin di atas cantik di kertas, dingin di rumah.
Buat saya, komitmennya enggak harus langsung sempurna. Saya belum berani bilang “mulai besok saya ayah ideal.” Yang bisa saya coba lebih jujur: taruh HP pas anak cerita. Peluk sebelum tidur. Catat satu kebaikan istri hari ini. Doa singkat di depan anak.
Seminar itu enggak bikin saya merasa hebat. Justru bikin saya merasa masih banyak yang harus dilatih.
Anak enggak cuma butuh ayah yang ada di rumah.
Mereka butuh ayah yang hadir.
Semoga catatan ini berguna — paling tidak buat saya sendiri dulu.
Ayah hebat, keluarga kuat.
Catatan pribadi dari seminar parenting Student One bersama Ustad Aswan. Kalau ada yang kurang pas, itu karena saya yang kurang tangkap — bukan karena pematerinya.